Foto ; JournalBeta Ibu Pertiwi "Kami Bisa Apa?" Bersuara lantang sembari menggengam seonggok kain yang di rajut menjadi satu dari kedua warna kain yang berbeda "Ohhhhhhhhh" (Merah Putihku), semula kau di jadikan sebuah lambang kau di dekatkan(tafsiran) filosofis, dengan tulang dan darah dari manusia di bumi nusantara ini. Lambat laun kau hanya di pandang dan di kibarkan sebatas seremoni mitos bangsa belaka, aku kasihan melihatmu "bahasa tren masa kini mengatakan" (Lalu kami yang di besarkan dengan kebencian ibu tiri "IBU PERTIWI" ini bisa apa..?) Mereka menciptakan konflik lalu membunuh, orang kami sembari mendalangi jargon NKRI harga mati (atau jangan-jangan konflik ini di ciptakan, lihat tulisanku awal bulan yang lalu). Fasisme bermetamorfosa menjadi pupuk yang di taburin ke benih-benih kebencian kami terhadap "Bangsa Carut-Marut" ini. Ya sudahlah itu kebencianku, tapi aku tak terus-menerus merajut kebenciank...